Minutes: Semua Berpuncak Pada Dini Hari
Hari ini, satu hari telah saya lalui dan saya mencicipi sedikit awal dari hari yang baru di tanggal 6 November 2008, dengan berkumpul bersama beberapa teman-teman saya yang terhitung sangat dekat dalam masa-masa saya kuliah ini.
Yang lain adalah, kami berkumpul terlarut malam dan terlampau pagi, tengah malam tadi kami baru saja berkumpul. Dan kini saya sudah berada pada suatu bilik di sebuah warnet untuk posting blog dan mencari-cari bahan untuk ancang-ancang skripsi.
Mungkin, hal yang akan paling dirindukan selain masa SMA, saya akan merindukan masa-masa saya berkuliah di sini di Yogya, di UPN Veteran, dimana saya dipertemukan dengan teman-teman yang selalu menghargai saya dan saya menyayangi mereka seperti saudara.
Tidak bisa ditampik memang, bahwa meskipun kami semua berteman bahwa kami pun punya perbedaan yang terlampau besar. Teman-teman saya ini berasal dari agama yang berbeda dengan saya, Islam. Sementara saya dan Ulo Kristen Protestan. Namun, saya tidak pernah tahu, bagaimana saya masih sangat susah untuk lepas begitu saja dari mereka. Sementara, saya sendiri tidak tahu bagaimana mereka terhadap saya.
Terlepas daripada itu semua, saya sangat beruntung mempunyai mereka. Kami berbeda bukan hanya dari segi agama, tetapi kami memiliki latar belakang kesukuan yang campur aduk. Ulo dan saya sama-sama Batak, tetapi dia besar di KalBar dan saya di Kaltim, Andi memiliki ayah dari darah Makassar dan ibu berdarah Sunda, sementara dia sendiri besar di berbagai wilayah mulai dari Yogyakarta, Jakarta dan lama berada di Jayapura. Satri Rahman Hadi atau Rio, dia memiliki Ayah seorang Jawa dan Ibu dari Sulawesi dan besar di Dumai, Riau. Eva Susana orang Melayu Sumatera dan besar di Batam dan Yogya. Ardi seorang Jawa dari Cilacap, tetapi senang berbahasa yang bukan hanya bahasa Cilacap. Alex Aryanto, dia orang Indramayu, anak satu-satunya, tetapi dia sangat bisa menghargai perbedaan dan senang dengan situasi ini.
Masih banyak lagi, ada Dian, dia seorang gadis Bali yang besar di Banjar, KalSel. Esti, gadis Pontianak yang memiliki Ayah seorang Jawa dan Ibu keturunan Tionghoa. Soraya, dia juga seorang gadis Pontianak yang berdarah Aceh dan Jawa. Rahmat atau Mumun, pemuda unik yang Yogya tulen.
Kami beragam, dan kami mengklaim diri kami bahwa tidak ada yang salah dengan pertemanan kami. Kami malah senang dengan keadaan ini. Tidak ada penyekat. Tidak ada jurang. Semua saling menyelami satu sama lain.
Lucu memang, bagi saya. Saya ingat, betapa Bapa Tua saya menasehati saya untuk bergaul dengan orang Batak juga. Tetapi memang, dasarnya saya tidak juga suka berteman karena dia Batak atau Kristen. Selama dia bisa menghargai dan bisa menghormati perbedaan dan malah bukan menjadikannya suatu masalah, saya lebih senang berteman dengan tipe-tipe orang seperti itu.
Bagi saya, musuh adalah orang yang tidak bisa menghargai. Namun ketika dia sendiri bisa dan mau untuk belajar menghargai, saya tidak sungkan-sungkan menjadikannya teman. Saya tidak membatasi diri untuk berteman selama dia beritikad baik.
Saya adalah manusia, sebuah struktur terkecil yang keranjingan bersosialisasi. Jadi sebagai mahkluk sosial, saya lebih senang berteman daripada tidak sama sekali. Karena, romantisme yang dibawa teman-teman saya selalu menjadi suatu peyakinan dan penekanan pada diri saya, bahwa hari esok selalu lebih baik.
Sebenarnya, bukan kali ini saja saya memiliki teman yang beragam latar belakang ras di Indonesia, saya memulai itu semenjak saya kecil dan beruntungnya berlanjut hingga kini. Saya selalu berharap, bahwa ini tidak akan pudar. Saya masih ingat teman TK saya, seorang Menado, namanya Edo dan kulitnya putih serta jidatnya lebar. Di SD saya punya teman kental seorang Makassar-Sunda, Juwandi Sadikin. Kakanya perempuan namanya Reza. Ayahnya pendek dan Ibunya agak besar. Juwandi atau Andi, dia sahabat kental saya waktu itu. Di SMP saya berteman dengan Erjad Tularno, Islam, separoh Dayak dan Jawa. Terus, ada Siauw Wi Lun, Budha, Tionghoa. Bram Tunggal Saputra, Kristen, Tionghoa. Yudhi Kurniawan, Budha, Tionghoa. Putu, Hindu, Bali. Muhaimin, Islam, Jawa. Dan masih banyak lagi, dari anak-anak pasar dan nelayan, sampai pejabat dan bermartabat. Di SMA, saya kenal dan berteman dekat lagi dengan Siauw Wi Lun, Bram dan Yudhi. Lalu kenal dengan Njo Aily, Degina, Lastiawan, Adiyono, Aries Moerdhani, Niftah, yang beragam latar belakang rasnya.
Aneh memang, ketika pemuda seperti saya, di masa kini masih saja ada yang lebih senang berkumpul dengan orang-orang yang ras mereka sama. Saya masih dalam tahap berpikir, apa yang mereka cari dalam bentuk pertemanan seperti itu?
Tapi, tidak salah jika mereka memilih hal tersebut. Hanya saja, saya sedikit menyesalkan, bahwa mengapa di dunia yang luas ini dan beraneka ragam jenis orang yang ada, lebih senang menyelam di situ-situ saja.
At least. Thanks God, for everybody that you bring to me. They are crayoning my whole world. Bless them as you blessed me like always.


