“N” It’s Me!

September 20, 2008

Jika Aku Menjadi

Diarsipkan di bawah: Opini — Tag:, , , — hnimrot @ 7:11 pm
Jika Aku Menjadi

Jika Aku Menjadi

Ini adalah program yang terhitung baru di salah satu stasiun televisi di Indonesia yaitu Trans Tv. Acara ini memiliki gaya dimana seseorang dari kalangan yang lebih baik diharuskan untuk mengikuti hidup seseorang yang susah hidupnya. Menggali lebih dalam kerumitan dan kedukaan (maupun suka) seseorang tersebut dan keluarganya yang hidup dibawah garis marginal, sebagai suatu garis yang menggolongkan ketidakmampuan seseorang dalam keadaan ekonomi: salah satu golongan yang paling mendominasi kehidupan Indonesia.

Program ini kalo menurut gue sangat pantas mendapat nilai: B; alias baik. Ya, ini karena bisa ditonton sebagai perenungan dan menguji sampai sejauh mana kita menghadapi kenyataan hidup golongan dominasi di Indonesia yang tidak mampu dalam latar belakang ekonomi ini.

Tetapi kali ini, tulisan gue ingin menyoroti mengapa dari awal hingga sekarang ini (yang saya lihat) para peserta JAM adalah kalangan perempuan?

Gue berdiskusi dengan adik gue ketika sore kemarin ketika menyaksikan JAM, dan pertanyaan itulah yang menjadi hits perbincangan kami.

Kami saling menduga-duga dan bertanya-tanya kenapa. Menurut gue pribadi, mengapa perempuan  atau wanita mendominasi kepesertaan JAM ini adalah semata-mata profit bagi trans Tv.

Asumsinya berangkat dari kenyataan bahwa saat ini stasiun televisi lebih menyukai format-format acara yang mampu menggali dan mengeksplorasi tangis, duka, dan kesedihan seseorang dengan mendalam.

Jika gue yang punya Trans Tv, ketika menerima proposal atau hendak mencari ide program maka saya lebih memprioritaskan program acara yang mampu menghasilkan keuntungan yang besar.

Keuntungan itu bisa datang dari iklan sebagai kontribusi utama. Durasi iklan yang lebih besar ketimbang acara akan lebih menguntungkan. Coba kita hitung bersama-sama beberapa kali iklan dan seberapa lamakah iklan menghabiskan detik dan menit yang berlalu, kemudian bandingkan dnegan durasi acara yang notabene sebanyak 30 menit. Tetapi 30 menit itu telah dipotong dengan iklan dan otomatis mengurangi esensi acara.

Hanya saja, mengapa hal itu menjadi terbantahkan?

Menurut gue, lagi, hal itu menjadi terbantahkan karena yang mengisi acara (peserta) adalah para perempuan. Mari lihat kenyataan bahwa perempuan adalah mahkluk Tuhan  yang berhati lembut dan mudah menangisi hal-hal apapun alias sensitif. Kemudian Trans Tv memanfaatkan situasi ini, memanfaatkan “mudah menangisnya” seorang perempuan, kehidupan orang susah dengan menayangkannya demi profit.

Semua ini demi profit dan nggak ada yang salah dengan profit, karena itulah tujuan ekonomi. Kita dibuat benci dengan kapitalisme (bahkan negara kapitalis seperti Amerika  Serikat) namun kita mengomersilkan kapitalisme.

Dari “pemanfaatan” terhadap sensitifitasnya perempuan itu dapat kita lihat ketika JAM memasuki detik-detik haru yang menjadi background utama program ini dengan melakukan zooming terhadap aktivitas menangis atau hal-hal lain yang miris.

Tapi hal itu bisa diwajarkan, pasalnya mencari momen-momen yang tepat dengan durasi yang minim membutuhkan rentang waktu yang lama, dan menyia-nyiakan momen yang tepat itu dalam dunia pertelevisian masa kini adalah tindakan yang bodoh. Namun jika ada yang bernai untuk “sengaja” tidak menggubris hal ini bisa jadi dia sebagai pionir pertelivisian berikutnya dan jika mengetahui tekniknya maka akan menjadi modal baru bagi profit mereka.

At least meskipun acara ini baik, beranikah Trans Tv dan JAM mengangkat pesertanya dari kalangan pria?

Bisa jadi belum berani.

Pray For Their Heal

Pray for their heal

Pray for their heal

Tanggal 20 ini gw kembali ngenet ria di salah satu tempat tongkrongan baru (dan gue baru dua kali ke tempat ini: kemarin malam dan malam ini), seperti biasa, ritual awal gue ketika ngenet pertama-tama adalah: email check.

Email gue berada di Yahoo.com dan ada berita yang cukup mengejutkan terpampang sebagai headline, yang biasanya beberapa minggu ini di dominasi oleh berita-berita Palin, McCain, Obama, dan runtuhnya rezim Lehman-Brother tetapi semua itu tergantikan seketika dengan pemberitaan mengenai kecelakaan yang dialami oleh mantan drumer Blink 182: Travis Barker dan DJ AM (Adam Goldstein) sobat kentalnya kini.

Menurut sumbernya, si Paman Yahoo! Tarvis dkk sedang berada di dalam pesawat pribadi yang berisikan enam orang ketika mereka sedang menuju South Carolina. Dari ke enam orang yang ada didalamnya, empat orang sudah tewas dalam kecelakaan tragis itu, dan kini tersisa hanya Travis dan DJ AM namun itupun dalam kondisi yang sangat kritis.

Chris Baker dan Charles Still: dua penumpang lainnya tewas dalam kecelakaan itu. Sang pilot Sarah Lemmon dan Co.Pilot nya pun James Bland ikut-ikutan tewas. Kecelakaan itu memang sangat tragis, begitu ujar Bob Coble sang Walikota Columbia dalam bahasa Inggris:

It’s absolutely terrible and tragic,

KNKTnya AS Debbie Hersman menceritakan rincian kejadiannya: pesawat yang membawa enam penumpang itu oleh Air Traffic Control Jum’at tengah malam melihat ada percikan api dari pesawat. Lalu pesawat itu menghantam Runway serta antena dan pagar di bandara dalam bola api yang sudah hampir menguasai pesawat.

Sedih mendengar cerita ini, pasalnya di Indonesia Travis sangat dikenal sebagai drumer yang handal. Bahkan gayanya pun ditiru oleh salah satu drumer band yang terkenal di Indonesia: Eno Netral. Kiranya kita sama-sama mendoakan keselamatan Travis dan DJ AM saat ini, agar segera sembuh dan tertolong dari kondisi mereka yang sangat kritis.

Blog pada WordPress.com.