
Jika Aku Menjadi
Ini adalah program yang terhitung baru di salah satu stasiun televisi di Indonesia yaitu Trans Tv. Acara ini memiliki gaya dimana seseorang dari kalangan yang lebih baik diharuskan untuk mengikuti hidup seseorang yang susah hidupnya. Menggali lebih dalam kerumitan dan kedukaan (maupun suka) seseorang tersebut dan keluarganya yang hidup dibawah garis marginal, sebagai suatu garis yang menggolongkan ketidakmampuan seseorang dalam keadaan ekonomi: salah satu golongan yang paling mendominasi kehidupan Indonesia.
Program ini kalo menurut gue sangat pantas mendapat nilai: B; alias baik. Ya, ini karena bisa ditonton sebagai perenungan dan menguji sampai sejauh mana kita menghadapi kenyataan hidup golongan dominasi di Indonesia yang tidak mampu dalam latar belakang ekonomi ini.
Tetapi kali ini, tulisan gue ingin menyoroti mengapa dari awal hingga sekarang ini (yang saya lihat) para peserta JAM adalah kalangan perempuan?
Gue berdiskusi dengan adik gue ketika sore kemarin ketika menyaksikan JAM, dan pertanyaan itulah yang menjadi hits perbincangan kami.
Kami saling menduga-duga dan bertanya-tanya kenapa. Menurut gue pribadi, mengapa perempuan atau wanita mendominasi kepesertaan JAM ini adalah semata-mata profit bagi trans Tv.
Asumsinya berangkat dari kenyataan bahwa saat ini stasiun televisi lebih menyukai format-format acara yang mampu menggali dan mengeksplorasi tangis, duka, dan kesedihan seseorang dengan mendalam.
Jika gue yang punya Trans Tv, ketika menerima proposal atau hendak mencari ide program maka saya lebih memprioritaskan program acara yang mampu menghasilkan keuntungan yang besar.
Keuntungan itu bisa datang dari iklan sebagai kontribusi utama. Durasi iklan yang lebih besar ketimbang acara akan lebih menguntungkan. Coba kita hitung bersama-sama beberapa kali iklan dan seberapa lamakah iklan menghabiskan detik dan menit yang berlalu, kemudian bandingkan dnegan durasi acara yang notabene sebanyak 30 menit. Tetapi 30 menit itu telah dipotong dengan iklan dan otomatis mengurangi esensi acara.
Hanya saja, mengapa hal itu menjadi terbantahkan?
Menurut gue, lagi, hal itu menjadi terbantahkan karena yang mengisi acara (peserta) adalah para perempuan. Mari lihat kenyataan bahwa perempuan adalah mahkluk Tuhan yang berhati lembut dan mudah menangisi hal-hal apapun alias sensitif. Kemudian Trans Tv memanfaatkan situasi ini, memanfaatkan “mudah menangisnya” seorang perempuan, kehidupan orang susah dengan menayangkannya demi profit.
Semua ini demi profit dan nggak ada yang salah dengan profit, karena itulah tujuan ekonomi. Kita dibuat benci dengan kapitalisme (bahkan negara kapitalis seperti Amerika Serikat) namun kita mengomersilkan kapitalisme.
Dari “pemanfaatan” terhadap sensitifitasnya perempuan itu dapat kita lihat ketika JAM memasuki detik-detik haru yang menjadi background utama program ini dengan melakukan zooming terhadap aktivitas menangis atau hal-hal lain yang miris.
Tapi hal itu bisa diwajarkan, pasalnya mencari momen-momen yang tepat dengan durasi yang minim membutuhkan rentang waktu yang lama, dan menyia-nyiakan momen yang tepat itu dalam dunia pertelevisian masa kini adalah tindakan yang bodoh. Namun jika ada yang bernai untuk “sengaja” tidak menggubris hal ini bisa jadi dia sebagai pionir pertelivisian berikutnya dan jika mengetahui tekniknya maka akan menjadi modal baru bagi profit mereka.
At least meskipun acara ini baik, beranikah Trans Tv dan JAM mengangkat pesertanya dari kalangan pria?
Bisa jadi belum berani.
